DahsyatnyaIstighfar. Tak lama setelah itu, ia menutup dagangannya dan pulang bersama Imam Ahmad. Selain kagum dengan kebaikan hatinya, Imam Ahmad penasaran dengan dzikir laki-laki itu. Tak hanya saat berjualan, ketika di rumah pun tampak lisannya selalu basah. Halaman selanjutnya →. Soreitu Hasan al-Bashri sedang duduk-duduk di teras rumahnya. Rupanya ia sedang bersantai makan angin. Tak lama setelah ia duduk bersantai, lewat jenazah dengan iring-iringan pelayat di belakangnya. Di bawah keranda jenazah yang sedang diusung berjalan gadis kecil sambil terisak-isak. Rambutnya tampak kusut dan terurai, tak beraturan. kumpulankisah teladan penuh hikmah Diberdayakan oleh Blogger. Tayangan halaman minggu lalu. Archives 2012 (43) 09/23 - 09/30 (11) TAUBAT SEORANG WANITA BUTA; TAUBAT LELAKI YANG SIBUK ISTIGHFAR 09/02 - 09/09 (18) 08/26 - 09/02 (14) Popular Posts. ORANG-ORANG TAMAK IMAMHasan Al-Bashri adalah tokoh sufi yang hidup pada masa awal kekhalifahan Umayyah. Beliau lahir di Madinah pada tahun 21 Hijrah (642 Masehi). Ayahnya merupakan pembantu sahabat Rasulullah SAW yang terkenal sebagai penulis Alquran, Zaid bin Tsabit. Ibunya adalah Khairoh, salah seorang istri nabi, Ummu Salamah. HasanAl Bashri hanya mengatakan, "Bacalah istighfar." Selain orang itu, ada juga yang mengadu kepada beliau tentang kemiskinan yang dia jalani. Imam Hasan juga menjawab, "Perbanyaklah membaca istighfar." Ada lagi yang mendatangi beliau perihal sulitnya dia memiliki anak. Sudah lama menikah tapi tidak kunjung dikaruniai momongan. ReadMEDIA KALIMANTAN RABU 22 FEBRUARI 2017 by Media Kalimantan on Issuu and browse thousands of other publications on our platform. Start here! Gadiskecil itu menengok kepada Hasan al-Bashri seraya berkata,"Betapa indah ratapanmu kepada ayahku. Betapa baik bimbingan yang telah kuterima. Engkau ingatkan aku dari lelap lalai." Kemudian, Hasan al-Bashri dan gadis kecil itu meninggalkan makam. Mereka pulang sembari berderai tangis. Sumber: Mutiara Hikmah dalam 1001 Kisah (Al-Islam) Inilahkehebatan istighfar, walaupun zikirnya mudah saja. Ada satu kisah seseorang mengadu keadaan yang kemarau kepada Imam Hasan al-Basri. Hasan Basri suruh lelaki itu balik ke rumah dan melakukan istighfar. Kemudian, datang pula lelaki lain yang mengadu hidupnya dalam kemiskinan. Hasan Basri suruh lelaki itu balik rumah dan lakukan istighfar KeutamaanIstighfar..Jangan Lupa Share, Like & Subscribe Channel Dakwah Kami, Agar Semakin Bisa Bermanfaat Bagi Kita Semua.. Ikuti selalu akun sosial media Terdapatjuga kisah yang melibatkan seorang ketua Tabi'in, al-Imam al-Hasan al-Basri yang masyhur berkenaan dengan istighfar. "Beberapa orang lelaki datang dan mengadu pelbagai masalah, tetapi tuan hanya menyuruh mereka semua untuk melafazkan istighfar." al-Imam al-Hasan al-Basri menjawab, "Aku sama sekali tidak mengatakan apa pun 2r5i. IMAM Hasan Al-Bashri adalah tokoh sufi yang hidup pada masa awal kekhalifahan Umayyah. Beliau lahir di Madinah pada tahun 21 Hijrah 642 Masehi. Ayahnya merupakan pembantu sahabat Rasulullah SAW yang terkenal sebagai penulis Alquran, Zaid bin Tsabit. Ibunya adalah Khairoh, salah seorang istri nabi, Ummu usia 14 tahun, Al-Hasan pindah ke kota Basrah, Irak, dan menetap di sana. Dari sinilah beliau mulai dikenal dengan sebutan Hasan Al-Bashri. Imam Hasan kemudian dikategorikan sebagai seorang tabi'in generasi setelah sahabat. Hasan al-Basri juga pernah berguru kepada beberapa orang sahabat Rasulullah sehingga dia muncul sebagai ulama terkemuka dalam peradaban Hasan Al Bashri adalah para sahabat Nabi , antara lain Utsman bin Affan, Abdullah bin Abbas, Ali bin Abi Talib, Abu Musa Al-Asy'ari, Anas bin Malik, Jabir bin Abdullah dan Abdullah bin Umar. Imam Hasan al-Basri meninggal dunia di Basrah, Iraq, pada hari Jum'at 5 Rajab 110 Hijrah 728 Masehi, pada umur 89 Hasan adalah pendukung kuat nilai tradisional dan cara hidup zuhud, kehidupan dunia hanyalah perjalanan untuk ke akhirat, dan kesenangan dinafikkan untuk mengendalikan nafsu. Dia merupakan tokoh sufi dalam islam. Khutbah-khutbahnya dianggap sebagai contoh terbaik dan terawal sastra ketika datang seseorang kepada Imam Hasan Al-Basri mengadukan masalahnya. Orang pertama datang mengadukan musim paceklik, kemudian Hasan Al-Basri berkata kepadanya “ Istighfar lah engkau kepada Allah”.Kemudian orang kedua datang mengadukan tentang kemiskinannya, Hasan Al-Basri juga berkata kepadanya ” Istighfar lah engkau kepada Allah“. Datang lagi orang ketiga mengadukan kondisinya yang tidak kunjung dikaruniai anak, Hasan Al-Basri berkata kepadanya ” Istighfar lah engkau kepada Allah“. Datang lagi orang keempat mengadukan tentang kebunnya yang kering, kemudian Hasan Al- Basri berkata kepadanya ”I stighfar lah engkau kepada Allah”. Semua keluhan dan masalah yang diadukan kepada Hasan Al-Basri dijawabnya dengan “ Istighfar lah engkau kepada Allah”.Memperhatikan hal tersebut, al-Rabi bin al-Sabih, murid Hasan Al Basri bertanya kepada beliau dengan sangat penasaran. Wahai Syaikh Hasan al-Basri, tadi orang-orang berdatangan kepadamu mengadukan berbagai permasalahan, dan engkau memerintahkan mereka semua agar beristighfar , mengapa demikian?”Hasan Al-Bashri menjawab “Aku tidak menjawab berdasarkan pikiranku sendiri, tetapi karena Allah Subhanahu wata’ala telah mengatakan dalam firman-Nya di Surat Nuh ayat 10-12."فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا 10 يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا 11 وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا 12“Maka aku katakan kepada mereka Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan pula di dalamnya untukmu sungai-sungai.” QS. Nuh 10-12Tahmid dan IstighfarSuatu hari, ada seorang kuli pengangkut air yang sehari-harinya senantiasa mengucapkan tahmid dan istighfar . Karena penasaran, Hasan Al-Basri melihat hal tersebut dan menanyakan kepada sang kuli pengangkut air yang saat itu berkunjung ke rumahnya.“Kalau boleh tahu sejak kapan engkau selalu mengucapkan dua kalimat tersebut?,” tanya Hasan Al-Basri.“Sudah lama”, jawab sang kuli pengangkut air.“Kenapa engkau selalu mengucapkan dua kalimat tersebut?,” tanya Hasan kuli menjawab, “Karena kita selalu berada dalam dua keadaan, kala kita mendapatkan nikmat, seperti nikmat Iman, nikmat Islam dan nikmat kesehatan, kita harus bersyukur kepada Allah namun kala kita berada dalam kondisi lalai, banyak melakukan sesuatu yang tidak bermanfaat dan menimbulkan kemudharatan, kita harus meminta ampun kepada-Nya,” jawab sang kuli.“Lalu apa faidahnya jika engkau mengucapkan dua kalimat tersebut?,” tanya Hasan Al-Basri lagi.“Doa-doaku selalu dikabulkan. Tapi ada satu doaku yang belum Allah kabulkan,” katanya.“Boleh aku tahu doa apa itu?”“Allah belum mengabulkan doaku untuk bertemu dengan ulama yang sangat ku kagumi.”“Siapakah ulama itu?”“Hasan Al-Basri”Imam Hasan Al-Basri kemudian memeluk sang kuli dan berkata, “Sekarang Allah telah mengabulkan doamu, akulah Hasan Al-Basri itu.”Sang kuli pun terkejut dan tidak berhenti mengucap puji syukur karena Allah telah mengabulkan doanyamhy loading...Ulama Tabiin, Imam Hasan Al-Bashri memiliki kisah menarik penuh hikmah ketika menetap di Basrah Irak. Foto/ilustrasi Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah 22-110 H adalah sosok ulama Tabiin yang sangat dihormati berkat keluasan ilmu dan petuahnya. Ulama kelahiran Madinah Tahun 22 Hijriyah ini memiliki kisah menarik ketika menetap di Basrah Irak. Keindahan akhlaknya menjadi sebab tetangganya yang Nasrani memeluk Islam. Selain memiliki akhlak yang baik, Imam Hasan Al-Bashri dikenal sebagai ulama yang fasih berbicara dan memiliki banyak heran jika ulama Tabi'in sekelas Abu Ja'far al-Baqir berkata dalam Hilyatul Aulia "Dia Hasan Al-Bashri itu adalah orang yang perkataannya menyerupai ucapan para Nabi." Dalam satu kajian Ustaz Ahmad Syahrin Thoriq diceritakan kisah tetangga Imam Hasan Al-Bashri memeluk Islam. Beliau bertetangga dengan seorang Nasrani yang tinggal di tingkat dua bangunan yang mereka tinggali, tepat di atas rumah beliau. Dari rumah tetangganya itu merembes air kotor yang berasal dari kamar mandinya tepat menetes ke kamar sang imam. Untuk mengatasi gangguan ini, Imam Hasan meletakkan baskom untuk menampung tetesan air tersebut. Apabila telah penuh maka beliau buang dan baskomnya digunakan kembali menampung rembesan lagi. Demikianlah berlangsung sekian hari, Imam Hasan Al-Bashri jatuh sakit dan tetangganya yang beragama Nasrani itu datang untuk menjenguknya. Alangkah kagetnya si Nasrani saat melihat ada kebocoran yang lumayan parah berasal dari atap rumah Hasan Al-Bashri. Ia sadar betul bahwa itu berasal dari kamar mandi Nasrani itu bertanya kepada sang imam يا أبا سعيد مذ كم تحملون منّي هذا الأذى؟Artinya "Wahai Abu Sa'id Imam Hasan Al-Bashri, sudah berapa lama dirimu menanggung gangguan dariku ini?"Imam Hasan Al-Bashri menjawab منذ عشرين سنةArtinya "Sejak 20 tahun yang lalu."Seketika itu juga orang tersebut melepaskan ikat pinggang yang menjadi simbol agamanya dan langsung bersyahadat menyatakan keislamannya. [Al Imta'wal Muanasah Hal. 247]Tetangganya MajusiSuatu hari Imam Hasan Al-Bashri mengunjungi tetangganya yang beragama Majusi sedang sakit keras. Beliau duduk di sampingnya sambil menghibur dan menanyakan keadaan orang tersebut, seraya berkata "Bagaimana keadaanmu? Apa yang kamu rasakan?"Dengan suara lemah tak berdaya majusi itu menjawab لي قلب عليل ولا صحة لي، وبدن سقيم، ولا قوة لي، وقبر موحش ولا أنيس لي، وسفر بعيد ولا زاد لي، وصراط دقيق ولا جواز لي، ونار حامية ولا بدن لي، وجنّة عالية ولا نصيب لي، ورب عادل ولا حجة لي"Hatiku telah hancur, tubuhku kesakitan, kuburku sedang digali, dan tidak lama lagi aku akan melakukan perjalanan yang sangat jauh. Akan tetapi, aku tidak memiliki bekal apa-apa. Aku tidak akan mampu melewati jembatan Shiratal Mustaqim dan aku akan dibakar panasnya api neraka. Tidak ada lagi harapan surga bagiku."Sang imam berkata lembut kepadanya لم لا تسلم حتى تسلم؟"Mengapa engkau tidak masuk Islam saja sehingga engkau bisa selamat?" IMAM Al-Qurthubi menyebutkan sebuah cerita dari Ibnu Shabih, bahwasanya suatu hari ada seorang laki-laki mengadu kepada Hasan Al-Bashri tentang kegersangan atau kemarau panjang yang ia alami. Maka Hasan Al-Bashri berkata kepadanya, “Beristighfarlah kepada Allah!” Lalu datang lagi orang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan, maka ia berkata kepadanya, “Beristighfarlah kepada Allah!” BACA JUGA Surat Al-Hasan Al-Bashri untuk Umar bin Abdul Aziz Kemudian datang lagi orang lain memohon kepadanya, “Do’akanlah aku kepada Allah, agar Ia memberiku anak!”, maka Hasan Al-Bashri menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah!” Foto Pinterest Hingga ketika datang lagi yang lain mengadu kepadanya tentang kekeringan yang melanda kebunnya, Hasan Al-Bashri tetap menjawab dengan jawaban yang sama, “Beristighfarlah kepada Allah!” Maka Ibnu Shabih bertanya kepadanya, “Banyak orang yang mengadukan macam-macam perkara dan Anda memerintahkan mereka semua untuk beristighfar?” BACA JUGA Nasihat Imam Hasan al-Bashri yang Menggetarkan Jiwa Lalu Hasan Al-Bashri menjawab, “Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Alloh telah berfirman dalam surat Nuh 10-12. “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan pula di dalamnya untukmu sungai-sungai.” QS. Nuh 10 – 12 []